Sumber Energi Listrik Indonesia Untuk Kini Dan Masa Depan Adalah Batu Bara Kalori Rendah Dan Lignite.

Sumber Energi Listrik Indonesia Untuk Kini Dan Masa Depan Adalah Batu Bara Kalori Rendah Dan Lignite.

Comments Off on Sumber Energi Listrik Indonesia Untuk Kini Dan Masa Depan Adalah Batu Bara Kalori Rendah Dan Lignite.

H. L. Ong*) dan Durban L. Ardjo **)

Dewan Energi Nasional atau DEN yang bertanggung jawab langsung ke Presiden telah menyerahkan hasil akhir karyanya berupa Energy Mix Indonesia pada Januari 2014, sebelum pergantian anggotanya. Energy Mix itu  mengambarkan kebutuhan minyak, gas, batu bara, serta energi baru dan terbarukan (EBT) untuk tahun 2011 dan tahun 2025.

 

Kebutuhan minyak menurun secara signifikan dari 47% menjadi 30%, sesuatu yang diharapkan banyak orang mengingat minyak kita sudah terkuras selama 125 tahun. Untuk gas diperkirakan hampir sama, yaitu dari 21,90% untuk tahun 2011 menjadi 23% tahun 2025. Untuk EBT, semua orang mengharapkan kenaikan. Namun kenaikan sampai empat kali perlu diragukan mengingat EBT merupakan energi mahal. 

Untuk batu bara terjadi anomali. Terjadi penurunan dari 26,38% pada 2011 menjadi 22% tahun 2025. Disebut anomali karena tidak masuk akal, mengingat batu bara adalah salah satu energi  termurah dan terdapat berlimpah.   

Tulisan ini terbatas pada pembahasan komposisi pemakaian batu bara dalam bauran energi dan membandingkannya dengan negara-negara lain. 

Batu bara sebagai sumber energi murah.

Teknologi batu bara sebagai pembangkit listrik telah diketahui dan dikenal lebih dari dua abad. Pertambangan batu bara dimulai sejak abad ke-17. Batu bara dipakai sebagai  pemanas di musim dingin dan untuk masak.

Menurut penelitian  International Energy Agency (IEA), pemakaian batu bara kalori rendah atau lignite akan terus naik. Pada 2020 kebutuhan dunia akan lignite naik 5,4%. Kota kecil berumur lebih dari tiga abad di Eropa Timur ex Soviet sekarang banyak digusur untuk ditambang lignite/brown coal di bawahnya (Bloomberg Businessweek, 3-9 Maret, 2014). 

Definisi lignite berlainan di tiap negara, tergantung standar yang dianut.  Standar Amerika atau ASTM, memberi batas lignite sekitar 3.800 kcal/kg (GAR). Dengan teknologi modern, batu bara jenis apapun bisa dipakai untuk pembangkit listrik, tergantung dari lokasi dan adanya saingan dengan energi lain. Di negara bagian Victoria, Australia, lignite dengan kadar kalori antara 1700-3000 Kcal/kg (GAR), dipakai sebagai pembangkit listrik sejak 1925.

Peranan lignite bagi perkembangan ekonomi dapat dihayati dengan mengutip website dari Dewan Mineral Australia: "...,  however, it was "lignite" that provided Victoria with the electricity to transform from a wealthy colony to Australia's industrial giant". Sebanyak 92% listrik Victoria  diterangi dengan lignite sejak 1925. 

Memang di negara kaya di Eropa, yang batu baranya mulai menipis, gas dialirkan lewat pipa dari Rusia yang cadangannya berlimpah. Australia dan Amerika Serikat yang produksi gasnya terus naik akhir-akhir ini, secara bertahap juga mengurangi pemakaian batu bara. Negara maju menganjurkan dan memberikan berbagai jenis insentif kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk beralih ke energi bersih, termasuk gas. Indonesia perlu berpikir jernih dan menimbang keuntungan dan kerugian menerima bantuan tersebut karena pasti ada embel-embelnya. 

Berlainan sekali dengan keadaan di Asia. Konsumsi batu bara di Asia selama periode 2000 - 2011 meningkat secara eksponensial seperti terlihat di Gambar 3 yang  menunjukkan 10 negara pengomsumsi batu bara terbesar di dunia, dipelopori Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Jepang. Pemakaian batu bara di Asia sangat besar karena cadangan batu baranya cukup banyak. Tiongkok, India, Australia, dan Afrika Selatan mempunyai cadangan batu bara nomer 3, 4, 5, dan 6 di dunia.

Di lain pihak, Indonesia  membanggakan diri sebagai eksportir batu bara nomer 3 di dunia dan memiliki salah satu sumber energi termurah, namun tidak memanfaatkannya dan memilih gampangnya dengan melakukan ekspor besar-besaran.

Sekarang sekitar 40% listrik dunia digerakkan oleh batu bara. Bauran energi Amerika Serikat saat ini menggunakan 38% batu bara. Inggris tahun 2012 menggunakan 37% batu bara dan tahun 2040 diperkirakan masih menggunakan sekitar 32%. Saat ini  Australia menggunakan 74% batu bara, sebanyak 23% adalah dari brown coal atau lignite.

Masih banyak juga negara Eropa yang menggunakan lebih dari 50% batu bara termasuk lignite untuk pembangkit listrik, antara lain Yunani, Spanyol, dan kebanyakan negara ex Uni Soviet. Polandia sebanyak 90% listriknya dari batu bara.  Bandingkan dengan Energy Mix versi DEN yang sekarang hanya menggunakan batu bara 26,38%.       

Bagi Indonesia, pemakaian batubara kalori rendah dan lignite sebagai sumber energi utama listrik adalah paling tepat.  

Kesuksesan ekonomi Tiongkok (dan India) tidak dapat dipisahkan dari pemakaian intensif batu bara dan lignite sebagai energi murah. Tiongkok secara cerdik mengembangkan ekonominya hingga menjadi negara dengan pertumbuhan GDP terbesar di dunia selama 20 tahun terakhir ini.  Tujuh puluh persen pembangkit listriknya menggunakan batu bara.

Setiap minggu satu pembangkit berbahan bakar batu bara dibangun di Tiongkok. Meskipun cadangan batu bara Tiongkok 22 kali dan India 18 kali dibandingkan cadangan Indonesia, kedua negara itu mengimpor batu bara Indonesia dalam jumlah cukup besar. Tiongkok dan India memanfaatkan energi paling murah di dunia, yaitu  batu bara.   

Indonesia patut meniru Tiongkok dan India. Kebijakan pemerintah sekarang lebih meniru negara super kaya dengan memilih gas yang bersih daripada batu bara yang murah.

Untuk listrik di Jawa, Indonesia sekarang mendatangkan LNG dari Bontang dan juga akan mengimpor dari Amerika Serikat dan Mozambik (Jakarta Post 22/10/2014). Padahal LNG adalah bahan bakar paling mahal, seperti diutarakan Ong dalam tulisannya di Society of Petroleum Engineer terbitan Januari-Februati 2014, "LNG for power generation is a luxury that Indonesia can't afford".   

Murahnya energi batu bara juga memiliki sisi negatif. Gas alam adalah paling bersih, diikuti minyak, dan terakhir batu bara. Namun bagi negara berkembang seperti Indonesia, Tiongkok, dan India, yang konsumsi energi per kapita masih sangat kecil, Protokol Kyoto yang merupakan pengawas polusi dunia tidak resmi, masih membolehkannya. Tiongkok dan India memanfaatkan kesempatan ini secara penuh. Indonesia di lain pihak "sok hijau" dan memilh menggunakan gas LNG yang bersih namun jauh lebih mahal.

Polusi di Tiongkok mulai terlihat dunia luar waktu Olimpiade 2009. Beberapa pelari maraton, yang memerlukan udara bersih, tidak mau ikut. Sekarang dengan kemajuan teknologi, asap pembakaran batu bara yang keluar dari cerobong bisa bersih. Semua ada biayanya, makin bersih makin mahal. Kemajuan teknologi juga membuat penangkapan dan pembuangan CO2 makin murah.

Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa batu bara Indonesia mempunyai kadar polusi seperti ash/abu, asam (belerang dan nitrogen)  dan "heavy metals", relatif rendah.  Abu atau "fly ash" adalah  polutan paling ditakuti. Hubungan antara kadar air dengan abu dari beberapa produksi lignites didunia dapat dilihat di Gambar 3. Batu bara Indonesia mempunyai kadar abu yang relatif rendah, 2-7%, dibandingkan batu bara sejenis di dunia.

Low rank coal (LRC) dan lignite Indonesia disukai banyak negara karena kebersihannya, kadar abu dan belerangnya relatif rendah. Batu bara Adaro dengan merk "Enviro Coal" yang  ramah lingkungan bisa diekspor ke Eropa. Bahkan low rank coal dan lignite Indonesia lebih bagus dibandingkan lignite Victoria; kadar airnya 35-45% vs. 55-75%.

Maka, batu bara Indonesia merupakan primadona. Saat ini Indonesia merupakan eksportir steaming coal terbesar di dunia. Di India, batu bara Indonesia dicampurkan dengan batu bara India yang kotor untuk menurunkan belerang dan abu, sebelum dijual ke pembangkit listrik.   

Untuk "hijau" perlu biaya tinggi. Meskipun dapat tekanan dari Uni Eropa, Amerika Serikat sampai sekarang menolak menandatangani "Protokol Kyoto" karena dianggap terlalu mahal bagi industrinya untuk bisa bersaing. Canada yang juga ikut menandatangani, sekarang berubah pikir karena pengolahan Athabasca sands, yang bisa menyaingi produksi minyak Saudi, akan dikenakan pajak karbon, sehingga tidak ekonomis.

Pemerintahan Australia yang baru terpilih berkampanye dengan janji menghapus pajak karbon yang menjadi ciri Protokol Kyoto. Jepang karena tsunami telah dan akan menutup beberapa pembangkit listrik nuklir, memilih batu bara, hingga kemungkinan besar akan meninggalkan Protokol Kyoto.  

Kalau Amerika Serikat, Canada, dan Australia saja tidak mau menandatangani atau keluar dari Protokol Kyoto, mengapa Indonesia yang sekarang dibebaskan dari protokol itu berkeinginan mengikutinya? Dengan menggunakan LNG yang mahal dan tidak memanfaatkan batu bara murah secara intensif, Indonesia telah beralih ke ekonomi biaya tinggi. Bagi Indonesia, belum waktunya ikut "hijau".

Tidak seperti Tiongkok yang merupakan benua sehingga abu berputar di tempat, Indonesia adalah kepulauan di daerah tropis sehingga angin kencang dan curah hujan tinggi dengan mudah dapat membersihkan polusi udara.

Sebagai akhir kata dapat disimpulkan bahwa migas sebagai sumber energi listrik seyogianya digantikan oleh batu bara kalori rendah dan lignite yang berlimpah dan murah. Batu bara kalori di atas 4.000 kcal/kg (GAR) diperuntukkan eskpor. Batubara 3000 - 4000 kcal/kg (GAR) diperuntukkan di Jawa dan Bali. Sedangkan batubara antara 1500-3000 kcal/kg (GAR) yang  berlimpah di Indonesia, diperuntukkan untuk pembangkit listrik di sekitar lokasi penemuannya.

*) Departemen Geologi, Institut Teknologi Bandung & Advisor, PT Geoservices.

**) Presiden Direktur PT Geoservices.

Who We Are

Founded in 1971 to offer services to the mining industry, PT Geoservices (Ltd) evolved into a fully integrated exploration services company. Employing more than 600 people, some of which are expert in specialized fields from a number of foreign countries, the company is offering in mapping surveys, geology, geophysics, downhole measurements, borehole drilling, laboratories analysis, and cargo superintending for quantity and quality.

Continue reading...

Our Location

Officesmall  Jl. Minangkabau Barat No.34 Jakarta Selatan 12970
Phonesmall  (+62 21) 830 5555, 831 8989
Faxsmall  (+62 21) 831 1454
emailsmall  jktbranch@geoservices.co.id

Comments or Feedback

Back to Top